Batur Sasak Di Era Modernisasi Saat Ini

Batur Sasak Di Era Modernisasi Saat Ini

Batur Sasak Di Era Modernisasi Saat Ini - Sasak adalah sebuah suku di pulau lombok dimana suku ini adalah komunitas terbesar yang mendiami pulau lombok. Banyak para sejarawan mengatakan bahwa suku sasak ini adalah merupakan perpaduan atau campuran antara penduduk asli lombok dengan pendatang dari Jawa Tengah atau yang dikenal dengan julukan mataram.

Istilah nama sasak diambil dari kata sak-sak yang berarti sampan adalah merupakan pertanda bahwa nenek moyang suku sasak dahulunya dalam mengitari pulau lombok menggunakan sampan. Dalam kitab kertagam yang digubah oleh mpu prapanca salah satu mpu di kerajaan majapahit menuliskan bahwa asal usul kata suku sasak berasal dari tradisi lisan masyarakat setempat yaitu lombok sasak mirah adi. Dalam tradisi lisan masyarakat setempat kata sasak berasal dari kata sa-saq yang berarti satu atau kenyataan dan lombok berasal dari kata lomboq (bahasa kawi) yang berarti lurus atau jujur sedangkan  mirah berarti permata dan adi artinya baik atau yang baik. Maka lombok mirah sasak adi  berarti kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau utama.

Dengan berpedoman pada asal usul kata sasak ini, maka seyogyanya masyarakat sasak selalu memegang teguh makna arti kata sasak seperti yang tertulis dalam kitab kertagama gubahan mpu prapanca tersebut. namun bagaimanakah di era saat ini? apakah orang sasak saat ini masih memegang teguh nilai nilai budaya seperti yang dituliskan dalam kitab kertagama itu? marilah coba kita diskusi disini dan kiranya topik diskusi Batur Sasak Di Era Modernisasi Saat Ini akan menjadi lebih hangat jika anda para pengunjung berkenan pula memberikan responnya melalui kotak komentar yang telah saya sediakan di bawah postingan ini.

Suku sasak dan Modernisasi

Munculnya sikap tidak peduli di masyarakat sasak
Tak bisa dipungkiri memang saat ini perkembangan jaman yang semakin maju di berbagai aspek kehidupan akan memiliki dampak terhadap budaya. Begitupula halnya dengan budaya sasak saat ini. Perkembangan wisata dan perkembangan teknologi menjadi faktor yang wajib untuk diwaspadai dan ditenggarai sebagai "perusak" budaya sasak. Ini bisa dilihat dari sudah mulai tumbuhnya dan munculnya ketidakpedulian masyarakat sukus sasak modern terhadap kebudayaannya sendiri, disinyalir muncul akibat adanya fenomena globalisasi dan modernisasi yang selalu dijadikan acuan atau kiblat kebudayaan bagi generasi suku sasak era sekarang yang selalu menganggap kebudayaan luar negeri jauh lebih keren dan modern dibandingkan dengan kebudayaan suku sasak yang dianggap kuno dan dipenuhi berbagai macam aturan yang berbelit-belit .  Selain itu, munculnya fenomena globalisasi dan modernisasi pada kebudayaan sasak bukanlah menjadi hal yang mengherankan lagi dikarenakan virusnya sudah berkembang di hampir seluruh pelosok dunia, terutama dinegara-negara berkembang. Perkembangan kebudayaan yang sudah dipengaruhi unsur modernisasi dan globalisasi ini terus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia sesuai dengan berkembangannya pengetahuan manusia untuk menciptakan inovasi baru. Seperti halnya peradaban manusia yang berkembang secara bertahap dari zaman prasejarah hingga zaman sejarah. Kebudayaan juga berkembang secara bertahap mengikuti perkembangan zaman. Globalisasi dan modernisasi dalam bidang kebudayaan dapat dilihat dengan semakin luasnya masyarakat dunia mengenal suatu kebudayaan dari suatu daerah. Seperti yang diungkapan oleh Anthony Giddens yang menyatakan bahwa modernitas meruntuhkan jarak antar ruang dan waktu.

Munculnya Tingkah laku kebarat-baratan di kalangan kawula muda batur sasak
Begitu pula halnya dengan tingkah laku generasi muda batur sasak yang saat ini sudah mulai jarang dimunculkannya tata krama di dalam hidupnya yang perlahan mulai hilang akibat munculnya fenomena modernisasi . Masyarakat sasak sekarang ini justru lebih banyak dijejali oleh tayangan-tayangan yang menampilkan kehidupan budaya barat yang jelas-jelas itu tidak sesuai dengan adat dan budaya ketimuran . Tayangan kekerasan, seksualitas, irasional, dan lain sebagainya itu membuat dan mempengaruhi kaum muda sendiri dalam bertingkah laku atau bertata krama. Selain itu pula perkembangan teknologi ini juga menawarkan hiburan berbau kebarat-baratan, hiburan model lain (bentuk baru) nyaris membanjiri masyarakat suku sasak baik di kota maupun di pelosok-pelosok desa. Sebagian hiburan bentuk baru tersebut disodorkan kepada masyarakat sasak modern melalui perangkat-perangkat elektronik yang bisa dibeli oleh masyarakat dengan harga yang semakin murah. Orang tidak harus pergi jauh-jauh dari rumah untuk menikmati hiburan. Menikmati pentas wayang kulit bisa dilakukan di rumah, cukup dengan cara menyetel TV atau mengaktifkan Compact Disc (CD). Serbuan hiburan melalui perangkat elektronik berlangsung secara massif. Studio TV berdiri di mana-mana, bahkan studio TV lokal berdiri di hampir setiap ibukota propinsi yang jangkauan siarannya sampai ke pelosok-pelosok desa. Bisa jadi, kondisi semacam inilah yang pada akhirnya mengerogoti eksistensi kesenian tradisional. Masyarakat mungkin berpikir, sama-sama mencari kepuasan batin dengan dunia hiburan, ngapain harus jauh-jauh menonton kesenian tradisional secara live kalau menonton hiburan lain yang jauh lebih praktis telah tersedia. Dengan adanya TV yang menyiarkan berbagai bentuk hiburan dari yang tradisional sampai yang modern, masyarakat kemudian memiliki kesempatan untuk memilih dan memilah serta membandingkan dengan bentuk kesenian tradisional yang biasanya ditonton secara live di sekitar mereka. Bagi yang beranggapan bahwa kesenian tradisional ternyata tidak menghibur jika dibandingkan dengan kesenian yang disiarkan melalui TV, yang sebagian besar adalah bentuk kesenian modern, maka mereka dengan segera akan meninggalkan kesenian tradisional. Jika kondisi tersebut tidak diimbangi dengan kreatifitas para pelaku kesenian tradisional dalam rangka melakukan adaptasi terhadap perkembangan zaman, maka pelan-pelan kesenian tradisional tersebut pasti akan kehilangan pengikut atau penonton. Padahal, kesenian tradisional tanpa penonton ibarat guru yang tidak memiliki murid. Eksistensinya sebagai media hiburan akan hilang.

Demikianlah topik Suku Sasak dan Modernisasi ini yang bisa saya tulis untuk kesempatan hari ini dan Insya Allah saya akan menuliskan topik lainnya yang mungkin akan menarik untuk sama sama kita baca dan diskusikan di Blog Orang sasak ini. Terima kasih atas kunjungannya dan semoga tulisan Batur Sasak Di Era Modernisasi Saat Ini ini bisa bermanfaat dan berguna bagi kita semua.

Di posting oleh : Unknown , Update pada : 18.54 | ► 0 komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar